Tips Mengumpulkan Dana Darurat

omdjin  

Mengumpulkan dana darurat memang tak mudah. Banyak di antara kita yang sudah punya niat untuk memiliki dana darurat, namun tetap kesulitan dalam mengumpulkannya.

Alasan atau penyebabnya pun bisa jadi berbeda-beda, karena masing-masing orang punya kondisi keuangan yang berbeda-beda pula.

Di artikel ini, saya mencoba memberikan tips bagaimana mengumpulkan dana darurat sesimpel mungkin, berdasarkan pengalaman yang sudah saya lakukan.

Mari kita mulai.

Tips mengumpulkan dana darurat
Photo by Annie Spratt on Unsplash

Pahami Manfaat dan Fungsi Dana Darurat

Dana darurat atau emergency fund adalah salah satu simpanan harus anda miliki dan sangat penting dalam perencanaan keuangan. Fungsinya untuk membiayai kebutuhan hidup anda saat anda tidak mempunyai penghasilan.

Apalagi di masa pandemi Corona (COVID19) di tahun 2020 ini, banyak orang yang kehilangan pekerjaan karena perekonomian yang memburuk, tentunya dana darurat sangatlah dibutuhkan.

Apakah fungsi dana darurat untuk biaya perawatan saat sakit, kecelakaan, atau bayar hutang?

Biaya-biaya untuk kebutuhan kesehatan (sakit/kecelakaan), sebaiknya disiapkan menggunakan asuransi. Namun jika anda memang tidak punya asuransi untuk kesehatan, anda bisa memanfaatkan dana darurat.

Sedangkan untuk hutang atau cicilan hutang (maksimal 30% dari penghasilan), harus terpisah dari alokasi dana darurat ini.

Ketahui Kondisi Keuangan Anda Saat Ini

Ada lho, orang yang gak tau penghasilan dan pengeluaran dia tiap bulannya berapa. Teman satu kantor saya sendiri contohnya.

Kenapa anda mesti tahu betul berapa penghasilan dan pengeluaran anda tiap bulannya? Karena dengan begitu, anda akan lebih mudah menentukan berapa banyak yang harus anda sisihkan untuk berbagai macam kebutuhan, misalnya untuk menabung dan dana darurat.

Mulailah catat pengeluaran bulanan anda. Bisa dicoba untuk mencatat pengeluaran dari tanggal anda gajian misalnya, karena umumnya setelah gajian, terbitlah pengeluaran hehehe.

Capek mencatat pengeluaran tiap hari? Sabar ya, melakukan ini selama sebulan aja udah cukup kok untuk tahu pos-pos pengeluaran bulanan anda. Kalo anda bisa 2 bulan atau lebih, lebih bagus lagi!

Oiya, mencatat pengeluaran bulanan ini bisa juga anda ulangi tiap 3 atau 6 bulan sekali. Bisa jadi dalam kurun waktu tersebut, anda punya tambahan pos pengeluaran lainnya. Misal jika 3 bulan lalu anda belum punya mobil, kemudian anda baru saja membeli mobil, maka anda wajib catat lagi pengeluaran bulanan ya! Karena pengeluaran bulanannya pasti akan bertambah.

Ketahui Jumlah Dana Darurat yang Anda Butuhkan

Kebutuhan dana darurat masing-masing orang akan berbeda-beda, tergantung status pernikahan, jumlah anak, dan sumber penghasilan.

Untuk mengetahui jumlah dana darurat minimal yang harus anda kumpulkan, bisa dengan melihat status pernikahan dan jumlah anak seperti list di bawah ini:

  • Lajang: 3 x pengeluaran bulanan
  • Menikah 0 anak: 5x pengeluaran bulanan
  • Menikah 1 anak: 8x pengeluaran bulanan
  • Menikah 2 anak: 10x pengeluaran bulanan, dan seterusnya

Jika anda lajang dan pengeluaran bulanan anda 5 juta rupiah, maka anda membutuhkan dana darurat minimal sebesar 15 juta rupiah.

Jika anda sudah menikah, dan pengeluaran keluarga anda 10 juta rupiah, maka anda membutuhkan dana darurat minimal sebesar 50 juta rupiah.

Contoh di atas adalah kebutuhan minimal, artinya jika anda punya kemampuan untuk menaikkan jumlahnya, akan lebih baik lagi.

Jika anda memiliki pekerjaan yang tidak tetap, misalnya kerja kontrak tiap 6 bulan sampai 1 tahun, atau Freelance, maka anda memerlukan dana darurat yang lebih besar lagi, karena anda harus mempertimbangkan faktor ketidakpastian penghasilan. Anda bisa menaikkan jumlahnya dua kali lipat dari target minimal di atas.

Kumpulkan Dana Darurat Secara Bertahap

Kaget setelah tahu target dana darurat ternyata cukup besar? Anda tak perlu khawatir atau cemas, apalagi malah jadi paranoid buat memulai. Tak masalah kalau anda baru memulai mengumpulkan dana darurat, yang anda perlukan adalah memulainya secara perlahan, dan lakukan secara rutin. Better late than never.

Jika anda hanya bisa menabung 10% dari penghasilan anda, tidak apa-apa. Sisihkan seluruhnya atau sebagian besar dari 10% tersebut untuk dana darurat.

Apabila anda mendapatkan pendapatan lainnya, misalkan bonus tahunan, THR, atau pendapatan tak terduga, maksimalkan untuk mempercepat target dana darurat anda.

Di Mana Menyimpan Dana Darurat?

Simpan dana darurat di instrumen penyimpanan yang mudah dicairkan. Beberapa pilihannya antara lain:

  • Rekening Tabungan
  • Deposito
  • Reksadana Pasar Uang (RDPU)

Jika anda memilih menggunakan rekening tabungan untuk menyimpan dana darurat, pastikan untuk menggunakan rekening tabungan yang terpisah dengan rekening yang biasa dipakai untuk pengeluaran. Jika memerlukan untuk membuka rekening baru, cari yang memiliki biaya admin rendah.

Saya sendiri menggunakan Deposito dan Reksadana Pasar Uang untuk menyimpan dana darurat saya, dengan rasio 60% Deposito dan 40% RDPU.

Deposito yang saya gunakan adalah deposito dari Jenius (Bank BTPN), karena aplikasinya cukup mudah digunakan dan mudah jika sewaktu-waktu ingin mencairkan deposito.

Saya menyarankan Anda untuk memilih deposito berjangka 1 bulan, untuk meminimalisir lamanya waktu pencairan dan hangusnya return atau bunga jika anda mencairkan deposito kurang dari waktu jatuh tempo.

Memang sih, makin lama jangka waktu deposito maka return-nya pun akan lebih besar. Tapi dana darurat ini kebutuhannya ya untuk kebutuhan darurat, bukan untuk investasi. Sebaiknya pisahkan dana untuk kebutuhan darurat dan kebutuhan investasi.

Demikian tips dari saya. Anda punya tips sendiri, atau punya pengalaman menarik selama mengumpulkan dana darurat? Sampaikan di kolom komentar 😉

Be the first to leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *